Suatu ketika, sebuah rumah yang cukup besar sedang mengalami kebakaran yang sangat dahsyat. Didepan rumah tersebut terdapat sebuah kolam besar yang berisi air yang sangat melimpah. Kobaran api tersebut tidak akan padam meskipun didepan rumah
tersebut tersedia air yang cukup banyak. Malahan kobaran akan semakin besar dan siap menghabisi rumah-rumah yang ada disekitarnya. Ramai orang-orang yang menyaksikan kebakaran yang dahsyat tersebut. Ada yang sibuk dengan urusannya masing masing, foto selfie, teriak-teriak, ada yang telpon sana sini mencari bantuan. Dan ada juga yang menyalahkan satu sama lain.
tersebut tersedia air yang cukup banyak. Malahan kobaran akan semakin besar dan siap menghabisi rumah-rumah yang ada disekitarnya. Ramai orang-orang yang menyaksikan kebakaran yang dahsyat tersebut. Ada yang sibuk dengan urusannya masing masing, foto selfie, teriak-teriak, ada yang telpon sana sini mencari bantuan. Dan ada juga yang menyalahkan satu sama lain.
Namun, dari kejauhan datang beberapa orang yang dengan sigap berlari sambil membawa ember, lalu menciduk air dari kolam lalu menimbuskannya kekobaran api yang kian membesar. Begitu terus-menerus dilakukan oleh beberapa orang tersebut. Oang-orang yang dari awal menyaksikan, mengejek orang-orang yang mencoba memadamkan api dengan ember. “Mana mungkin bisa, sia-sia saja perbuatan kalian”. “buat capek saja, apinya tidak akan padam”. Ejek mereka. Tetapi beberapa orang yang membawa ember tersebut tetap dengan tugas mereka, berusahan memadamkan api sesuai kemampuan mereka: dengan ember.
(Mungkin) begitulah gambaran dakwah ini. Imam Syahid Hasan Al-Banna pernah menceritakan dalam Majmu'atur Rasail, bahwa saat ini ummat sedang krisis disemua aspek kehidupan: Ekonomi, Sosial, Budaya, Politik, bahkan Ideologi. Saat ini ummat sedang mendapat bencana, kebakaran yang cukup dahsyat yang siap-siap memberanguskan seluruh aspek kehidupan. Beliau juga menjelaskan, bahwa “AIR” yang berlimpah itu adalah AL-ISLAM. Islam merupakan solusi bagi semua krisis yang dialami ummat manusia. Sebagaimana AL-ISLAM telah menjadi solusi segala masalah setiap apsek kehidupan pada era pendahulu “salafush shaleh” ummat ini. Segala persoalan yang terjadi, solusinya adalah kembali kepada ISLAM.
Namun, diperjalanannya, banayk diantara kita yang hanya menjadi penonton “kebakaran”. Mungkin karena belum pernah melihan “kebakaran” yang sedahsyat ini, tidak sedikit yang berfoto ria, selfie. Begitulah gambaran ummat ini, sibuk dengan urusan pribadi mereka, yang notabenenya merupakan urusan duniawi belaka. Tidak tergerak sedikitpun untuk memadamkan “kobaran api” yang kian membesar, bahkan siap untuk memberanguskan dirinya sendiri.
Disisi lain, banyak diantara ummat ini yang saling menyalahkan, “jangan ini, jangan itu”, “ini tidak boleh, itu tidak boleh”, “percuma menggunakan itu”, dan banyak lagi. Mereka senang sekali menyalahkan apa yang dikerjakan oleh “para pemadam kebakaran”. Tetapi mereka tidak berbuat apa-apa sedikitpun melainkan hanya menyalahkan. Itulah segolongan ummat ini yang tidak berkontribusi terhadap “pemadaman kebakaran” tersebut.
Ada sekelompok orang yang kerjaannya saling menyalahkan satu sama lain, bahkan mereka menyalahkan orang-orang yang berusahaa untuk memadamkan kobaran api tersebut yang kian membesar. Tiada lain, kerjaan mereka hanya menyalahkan, “ini gara-gara anda karena tidak ini, tidak itu...”. Begitulah kebiasaan mereka yang esesnsinya juga tidak berkontribusi dalam memadamkan “kobaran api” yang kian membesar.
Namun, sekelompok orang, mereka datang dengan ember-ember kecil, ada juga yang membawa ember yang cukup besar, berusaha memadamkan api semampu mereka. Mereka melakukan apa yang bisa mereka lakukan, mereka memadamkan kobaran api tersebut sesuai kapasitas mereka, meskipun banyak orang diluar sana yang menyepelekan perbuatan mereka, bahkan banyak yang mencemooh perbuatan mereka. Mereka tetap melakukan apa yang bisa mereka lakukan, minimal mereka tidak seperti orang-orang diluar sana yang sibuk dengan urusan dunianya masing-masing. Dan setidaknya mereka memiliki hujjah dihadapan Tuhan mereka, bahwa mereka telah melakukan semaksimal mungkin dalam memadamkan “kobaran api” tersebut (QS.Al-A'raf:164).
Itulah mereka pada da'i, yang berkomitmen untuk medakwahkan agama ini dimanapun mereka berada. Motto mereka “Nahnu Du'at Qobla Min Kulli Syai'”. Mereka digembleng dan ditanamkan dalam jiwa mereka bahwa mereka pada da'i penyeru ummat kepada jalan kebenaran dimanapun mereka berada, pada posisi apapun. Karena mereka meyakini bahwa solusi utama permasalahan ummat, permasalahan global adalah AL-ISLAM, tanpa banyak kata, yang mereka utamakan adalah action, sebagaimana motto salah satu iklan, “ Talk Less Do More”, yang sangat pas untuk mereka.
Diamanakah posisi kita? Apakah sebagai pembawa ember yang dengan sekuat kemampuan untuk memadamkan kobaran api? Atau sebagai penonton, atau penyemooh, atau yang saling menyalahkan?. Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk aktif, istiqomah dan maksimal dalam perjuangan mendakwahkan agama-NYA diamanpun dan kapanpun kita berada.
Wallahu a'lam.
0 Response to "Kebakaran"
Posting Komentar